BEBERAPA KESALAHAN DI BULAN RAMADHAN

BEBERAPA KESALAHAN

DI BULAN RAMADHAN

 


TAQDIM

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan barakah. Sungguh banyak keutamaan yang telah ALLAH berikan kepada Kaum Muslimin dalam Bulan ini.

Sehingga sangat disayangkan bilamana seba-gian Kaum Muslimin yang seharusnya menyibukkan diri  dengan ibadah yang benar dalam Bulan ini, justru menyambut dan mengisi hari-hari dalam Bulan Ramadhan dengan kesalahan-kesalahan yang tidak disadarinya. Kesalahan-kesalahan tersebut tentu saja tidak memberikan manfaat yang banyak bagi dirinya, malah justru bisa menimbulkan kerugian bagi pelakunya.

BEBERAPA KESALAHAN

Berikut ini adalah sebagian kekeliruan Kaum Muslimin khususnya di Indonesia dalam menyikapi Bulan Ramadhan:

1.Golongan yang berbuat baik tapi meng-abaikan hal yang sangat penting.

Mereka sangat rajin melakukan amalan-amalan Ramadhan seperti Shaum, shalat tarawih, infaq dan lain sebagainya. Namun, pada saat yang bersa-maan, mereka tidak memperhatikan bahwa dirinya masih terjerumus kepada perbuatan-perbuatan dan keyakinan-keyakinan yang berbau syirik. Mereka masih saja mendatangi kuburan atau benda lain yang dikeramatkan untuk meminta barakah, berkurban untuk selain ALLAH, berdo’a kepada selain ALLAH dan perbuatan lainnya yang bathil. Mereka hendaknya merenungkan firman ALLAH  :

 Jika kamu mempersekutukan (ALLAH), sungguh-sungguh pasti akan hapuslah amalmu dan sungguh-sungguh pasti kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar:65)

Kemudian ada pula di antara mereka yang berpuasa tetapi meninggalkan shalat wajib. Padahal jika mereka berbuat demikian berarti mereka telah meninggalkan rukun terpenting dari rukun-rukun Islam setelah tauhid. Puasanya sama sekali tidak bermanfaat baginya, selama ia meninggalkan shalat. Sebab shalat adalah tiang agama, di atas-nyalah agama tegak. Dan orang yang mening-galkan shalat hukumnya adalah kafir. Orang kafir tidak diterima amalnya. Rasulullah  bersabda :

 “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad dan Para penulis kitab Sunan dari hadits Buraidah  )  At-Tirmidzi berkata : Hadits hasan shahih, Al-Hakim dan Adz-Dzahabi men-shahihkannya.

Jabir  meriwayatkan, bahwa Rasulullah  bersabda : ”(Batas) antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Namun, perlu diketahui bahwa jangan sampai anda mengkafirkan pribadi seseorang hanya dengan alasan tadi, padahal ilmu untuk itu tidak anda miliki. Menghukumi, kafirnya seseorang adalah suatu masalah besar yang ‘ulama besarpun berhati-hati di dalamnya, karena banyaknya syarat-syarat dan peliknya masalah ini.

2. Golongan pemalas dan berbuat sia-sia

Yaitu mereka yang menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan “untuk tidur” ataukah menyibukkan diri dengan perbuatan-perbuatan tidak berguna bahkan haram seperti : bermain catur, ular tangga, monopoli, membaca komik, cerpen rekaan, menonton film / sinetron / drama dimana banyak kemaksiatan di dalamnya dan sejenisnya. Jika yang terjadi pada generasi muda kaum Muslimin adalah yang seperti ini, maka kapankah Kaum Muslimin akan bangkit dari keterlenaannya dan mengatasi Kaum Kafir ?

3. Golongan tamak dan nafsu makan besar.

Para wanita saling mempertontonkan kebo-lehan mereka dalam memasak pada saat berbuka. Akibatnya, dari waktu dhuhur sampai menjelang berbuka puasa, mereka hanya di dapur sehingga terabaikanlah shalat dhuhur dan ashar. Kemudian para lelakinya pun dengan rakusnya menyantap semua hidangan pada saat berbuka. Apa yang terjadi kemudian ? Perut mereka buncit dan kembung, sehingga tidak dapat bergerak kecuali hanya duduk kelelahan. Merasa berat menuju masjid untuk Shalat Maghrib berjama’ah. Mereka tidak shalat Maghrib kecuali ketika adzan Isya’ hampir tiba. Alangkah baiknya, jika puasa kita berjalan dengan baik dan kewajiban lainpun juga berjalan dengan baik.

4. Golongan peminta sedekah padahal ia mampu.

Mereka jadikan bulan Ramadhan sebagai bulan mendapatkan sumbangan, sedekah, amal jariyah atau sejenisnya dari orang-orang yang berpuasa. Kebanyakan mereka adalah para pemuda yang kuat bekerja dan dari golongan yang mampu mencari penghidupan dari selain mengemis. Rasulullah  menyampaikan bahwasanya :

“Barang siapa yang meminta-minta pada orang lain padahal dia punya sesuatu yang mencukupinya  maka tidaklah ia memperbanyak kecuali api neraka atau batu jahannam. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulallaah, sebatas mana mencukupinya ?” (Rasul) menjawab : “sebatas cukup bagi dia makan siang dan makan malam.” Dan dalam riwayat lain : “sebatas kenyang siang dan malam hari.” (Shahih Abu daud oleh Syaikh Al Albany)

5. Golongan pemain petasan

Ketika bulan Ramadhan belum tiba boleh jadi tetangga mereka aman dari gangguan mereka. Namun, ketika Ramadhan tiba, mereka menjadi orang yang paling senang memberikan gangguan bagi Kaum Muslimin. Suara petasan atau mercon yang menggelegar serta dapat mem-bahayakan orang lain dengan seenaknya diledakkan di mana saja. Padahal Rasulullah  bersabda:

 “seorang Muslim adalah orang yang dapat menjaga keselamatan kaum muslimin dari (gangguan) lidah dan tangannya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dan orang tua adalah pihak yang mempunyai tanggung jawab besar dalam mencegah hal ini, minimal melarang anak-anak mereka untuk melakukannya.

6. Golongan yang sadar sebatas Bulan Ramadhan

Alhamdulillaah, banyak manusia ketika Bulan Ramadhan tiba terhenti aktivitasnya dari maksiat dan perbuatan keji lainnya. Namun, ketika Rama-dhan berlalu mereka kembali kepada kemaksiatan dan kekejian yang telah ditinggalkannya untuk sementara. Ibarat orang yang telah membangun rumah kemudian menimbunnya dengan sampah dan kotoran. Wahai saudaraku, janganlah berbuat seperti itu. Bersungguh-sungguhlah dalam taubat-mu ! Ketahuilah bahwa engkau bermaksiat bukan di hadapan siapa-siapa, tetapi engkau bermaksiat di hadapan ALLAH Rabb semesta alam yang hanya Dialah yang berhak diibadahi. Takutlah kepada ALLAH, wahai saudaraku dan kembalilah …..

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (At Tahrim: 8)

 

7. Golongan budak nafsu

Hal yang paling menyenangkan bagi mereka adalah ketika berakhirnya Ramadhan, sehingga mereka bisa kembali kepada syahwat yang telah ditinggalkannya selama sebulan. Golongan ini perlu banyak belajar untuk mengetahui keutama-an Ramadhan, sehingga menjadilah Ramadhan itu sesuatu yang berharga dalam hidupnya.

8. Golongan yang senang bepergian

Mereka menunggu-nunggu Ramadhan bukan karena keutamaannya, namun karena ingin pergi berlibur. Apabila telah lewat 2/3 Ramadhan maka ramailah tempat-tempat wisata dengan diri-diri mereka. Mereka beralasan bahwa mereka jenuh dengan puasa dan shalat tarawih sehingga membutuhkan refreshing (penyegaran). Sungguh, tahukah mereka bahwa Rasulullah  justru lebih menggiatkan diri ketika tiba 1/3 akhir ramadhan.

Demikianlah beberapa kesalahan /kekeliruan sebagian ummat Islam dalam menyikapi bulan ramadhan. Dan hal tersebut, hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak kesalahan yang terjadi. Kesalahan/kekeliruan tersebut lahir tidak dengan sendirinya, namun akibat kelalaian ummat islam dalam mempelajari Ad Dien Al Islam itu sendiri. Sehingga, tidaklah heran jika hal-hal tersebut kebanyakan dilakoni oleh mereka yang minim akan pemahaman agama Islam. Karenanya, adalah hal yang sangat bijaksana jika Kaum Muslimin berlomba-lomba dalam menuntut ‘ilmu agama yang benar, yang berlandaskan kepada Al Qur’an dan As Sunnah sesuai pemahaman para salafusshalih.

 

Maraji’ :

Majalah As Sunnah edisi 03/Th.IV/1420-1999 hal.37-40

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s